CONTENT BLOG

BLOG CONTENT IS AVAILABLE IN TWO LANGUAGES, INDONESIA AND ENGLISH (UK/US)
KONTEN BLOG INI TERSEDIA DALAM DUA BAHASA, INDONESIA DAN INGGRIS

HOW HONESTY REMOVED / BAGAIMANA KEJUJURAN DITANGGALKAN


BAGAIMANA KEJUJURAN DITANGGALKAN

Artikel Renungan kali ini saya membahas tentang Bagaimana Kejujuran Ditanggalkan, sebagai lanjutan dari Renungan sebelumnya yaitu Tekanan Untuk Tidak jujur

Reverensi Khotbah, Renungan

Tekanan untuk tidak jujur punya pengaruh yang kuat. Sebuah survei atas para manajer di Australia melaporkan 9 dari 10 manajer menganggap suap dan korupsi itu “salah tapi tidak bisa dihindari”. Orang-orang yang disurvei mengatakan bahwa mereka rela mengabaikan nilai-nilai moral demi memenangkan tender atau demi keuntungan perusahaan.


Meskipun begitu, orang yang berlaku tidak jujur sering kali menganggap diri jujur padahal perilaku mereka tidak jujur? Journal of Marketing Research melaporkan, “Orang-orang berperilaku tidak jujur demi keuntungan, tetapi cukup jujur dalam hati untuk menipu diri bahwa mereka punya integritas.” Supaya tidak terlalu merasa bersalah, mereka menyepelekan, membenarkan, atau mencari dalih atas ketidakjujuran dengan berbagai cara.

Misalnya, ketidakjujuran mungkin diperhalus dengan istilah-istilah yang kedengarannya lebih sopan. Berdusta atau berbuat curang disebut “jalan pintas” atau “cara untuk maju”. Uang suap mungkin dianggap sekedar “ tanda terima kasih” atau “uang kopi”.

Yang lain membenarkan perilaku yang meragukan dengan mengencerkan definisi kejujuran. Tom, yang bekerja di industri keuangan, mengamati, “Persepsi orang-orang tentang kejujuran lebih brkaitan dengan bisa tidaknya mereka terhindar dari jerat hukum ketimbang dengan kebenaran itu sendiri.” David, mantan eksekutif bisnis, mengatakan, “Walau dikecam kalau ketahuan, ketidakjujuran dianggap diterima kalau tidak ketahuan. Orang yang tidak ketahuan dianggap pintar karena ‘kreatif’.”

Seorang pengusaha kawakan berkomentar, “semangat bersaing sering kali menggerakan orang-orang untuk mengatakan, ‘Kita harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan.’” Tetapi, benarkah begitu? Atau apakah orang-orang yang berupaya membenarkan ketidakjujuran justru ‘menipu diri mereka dengan penalaran yang salah’? (Yakobus 1 : 22) Perhatikanlah apa saja untungnya berlaku jujur di artikel berikutnya.

    Selanjutnya silahkan ke Artikel Renungan Untungnya Berlaku Jujur

ENGLISH 

HOW HONESTY REMOVED

Reflection time this article I discuss about How Honesty removed, following on from the previous Thoughts Pressure For Dishonest
The pressure to be dishonest has a strong influence. A survey of managers in Australia reported a 9 out of 10 managers consider bribery and corruption was "wrong but can not be avoided". The people surveyed said that they are willing to ignore the moral values ​​for the sake of winning tenders for the benefit of the company.
Even so, people who apply dishonest often consider themselves to be honest when they are dishonest behavior? Journal of Marketing Research reported, "People behave dishonestly for profit, but to be quite honest in heart to deceive themselves that they have integrity." So do not feel too bad, they underestimate, justify, or to rationalize the dishonesty in various ways.
For example, dishonesty may be refined with terms that sound more polite. Lying or cheating called "shortcut" or "way forward". Bribes may be considered just a "thank-you" or "coffee money".
Others justify questionable behavior by diluting the definition of honesty. Tom, who works in the financial industry, observed, "The perception of the people about honesty more to do with whether or not they are spared from the law rather than the truth itself." David, a former business executive, said: "Although criticized if caught, dishonesty is considered acceptable if not caught. People who are not caught are considered smart because of 'creative'. "
A seasoned businessman commented, "competitive spirit often drive people to say, 'We have to justify any means to get the job done.'" But, had she? Or are people just trying to justify dishonesty 'deceive themselves with false reasoning'? (James 1: 22) Consider any honest at luckily the next article.
    
Further to the article please Fortunately Applicable Honest Reflection

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda Sangat Membantu Kami...

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...